Terkaitperbuatan baik untuk orang lain yang manfaatnya akan kembali kepada diri kita sendiri ini, ada cukup banyak hadis Nabi saw. yang bisa kita jadikan pedoman. Salah satunya, Kalau setiap habis salat lima waktu kita mendoakan mereka, berapa kebaikan yang kita peroleh? Baca juga: Perhatikan Adab Berdoa Ini Agar Doa Terkabul.
Selamaini kita percaya bahwa kebaikan akan kembali kepada kita berupa kebaikan pula. Kini kepercayaan kita dapat semakin kuat semenjak ditemukannya bukti kuat melalui sains. Berbuat baik membuat kita merasa lebih baik dan lebih sehat. Kebaikan juga merupakan kunci yang dapat mengembangkan dan membuat kita mampu bertahan sebagai spesies.
Sesungguhnyaapapun yang kita lakuakn di dunia ini akan kembali kepada diri kita sendiri. Ketika kita melakukan hal yang buruk, maka sudah dapat dipastikan bahwa keburukan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Sebaliknya, jika kita melakukan hal-hal yang baik, maka kebaikan itu akan berimbas kepada diri kita sendiri pula.
WajibTaat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin Dalam Kebaikan - Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kita kepada jalan kebaikan. Sesungguhnya kita sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk apabila Allah tidak memberi kita petunjuk. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih bisa terlaksana.
KEBAIKANITU BAKAL KEMBALI PADA KITA COBALAH kita melempar bola pada dinding. Sekuat apa kita melempar, maka sekuat itu pula bola memantul ke arah kita. Lakuka
Betapabanyaknya kebaikan dunia dan akhirat yang didapatkan dari bersedekah. Sedekah pun tidak hanya dalam bentuk harta semata, sedekah memiliki sudut yang lebih luas. Setiap amal baik yang kita lakukan adalah sedekah. Jika kita bersedekah untuk memberikan bantuan kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali kepada diri sendiri, meski pun sedekah kita atas nama orang lain, seperti sedekah
FaedahMenyertai Kegiatan Kokurikulum Pdf from menyertai aktiviti kokurikulum kepada murid. Antara kebaikan menyertai aktiviti unit beruniform termasuklah aktiviti ini akan meningkatkan ketahanan mental dan fizikal. Justeru, polemik ini akan dibincangkan dan dikupas untuk kebaikan bersama .
Baca juga: DAMPAK DARI MARAH DAN CARA MENGATASINYA) Lihat, kebaikan atau kasih yang kita lakukan selalu kembali kepada kita, Pada dasarnya, kitalah yang paling diuntungkan ketika kita berbuat baik atau berbuat kasih kepada seseorang.
BacaJuga: Balasan Kebaikan Adalah Ridha Allah Swt Bagi Hamba-Nya. Berbuat Baiklah Sebagaimana Allah Berbuat Baik. Setelah melihat hakikat perbuatan, kita akan merujuk kepada ayat yang memerintahkan kita untuk berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik, yaitu terdapat dalam surah Al-Qashash ayat 77.
pzoScd. Harmoni dan Keguyuban di Balik Yadnya Kasada 1 Hari-hari menyambut Yadnya Kasada adalah hari-hari ketika pintu semua rumah di desa-desa lereng Bromo dibuka untuk siapa saja dan ada makanan-minuman yang siap menyambut. Tua-muda, laki-laki-perempuan suku Tengger, semua turun tangan membuat ongkek. ARIF ADI WIJAYA, Kab Probolinggo - KESIBUKAN mewarnai kediaman Tutik. Sang pemilik rumah mondar-mandir menyiapkan menu berbagai masakan. Sedangkan di depan rumah, tangan-tangan terampil sejumlah warga sekitar membereskan pembuatan ongkek. Semua kesibukan di rumah yang berada di Dusun Wanasari, Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, itu demi tujuan serupa menyambut Yadnya Kasada. Sebuah ritual masyarakat Tengger-Bromo yang diyakini telah menjulur panjang sejak zaman Kerajaan Majapahit. Bromo bagian dari Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Wilayah taman nasional itu membentang di empat kabupaten di Jawa Timur Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Di balik ritual itu, ada keguyuban antarwarga, tak peduli apa pun latar belakangnya. Yang seperti mewakili harmoni di antara para penduduk di lereng Bromo. Seperti disaksikan Jawa Pos kemarin 15/6, janur yang dibentuk seperti bunga menghiasi sepanjang jalan menuju lautan pasir. Umbul-umbul berwarna putih, merah, hijau, dan kuning pun ikut menghiasi teras rumah warga di tepi jalan. Meski rumah penduduk umumnya tampak sepi, suasana jalan memperlihatkan warga yang begitu antusias menyambut Yadnya Kasada. Meriah, tetapi tetap khidmat. Pembuatan ongkek adalah salah satu contoh keguyuban di balik Yadnya Kasada. Warga tua-muda, laki-laki-perempuan, bergotong royong membuatnya. ’’Nanti ongkek ini dibawa ke rumah kepala desa Kades dan carik,” kata Tutik yang juga istri Soetomo, romo Dukun Desa Ngadisari, kepada Jawa Pos di sela turun tangan membantu membuat ongkek. Rangka ongkek terbuat dari bambu. Isinya berbagai hasil bumi dari warga setempat. Mulai wortel, kacang koro, kubis, sampai kembang kenikir. Ada pula terong tengger, semacam cabai berukuran jumbo. Di rumah Pak Kades dan Pak Carik sekretaris desa, satu pasang ongkek ditata di depan sesajen. Beberapa warga dan tokoh adat maupun tokoh masyarakat ikut hadir dalam ritual kecil tersebut. Romo dukun lalu memimpin ritual untuk pengukuhan. Istilahnya, netepno ongkek. Nun di lautan pasir Bromo kemarin, ratusan warga memadati sekitar Pura Luhur Poten. Ada rombongan yang datang dengan menggunakan mobil pikap. Ada pula yang naik bak truk. Bukan hanya suku Tengger yang mayoritas beragama Hindu yang datang ke Pura Luhur Poten. Banyak warga beragama Islam dan Kristen yang juga datang dengan membawa sesajen. Isinya tidak seperti ongkek. Ada yang membawa hasil bumi, roti, sampai kembang. Di depan pura tersebut, ada delapan sesepuh yang berbusana serbahitam dengan udeng di kepala. Mereka adalah romo dukun pandita perwakilan dari desa-desa yang ada di lereng Gunung Bromo. Warga yang datang membawa sesajen meminta doa atau mantra dari para romo dukun yang berasal dari delapan desa di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Setelah meminta doa dari para romo dukun, warga tidak langsung pulang. Mereka mendirikan tenda di atas bak pikap atau truk yang ditumpangi menggunakan terpal. Mereka, baik suku Tengger maupun bukan, menunggu puncak ritual Yadnya Kasada berupa larung sesajen di kawah Gunung Bromo yang berlangsung dini hari tadi. Sri Astutik, warga Desa Jetak, Kabupaten Probolinggo, mengaku mengikuti ritual Kasada setiap tahun. Hanya tahun lalu dia absen lantaran ritualnya digelar tertutup dan dengan pembatasan. ’’Bukan soal keyakinan, melainkan apa yang menjadi tradisi warga sini, kita ikut,” kata perempuan berkerudung itu. Lastoko, carik Desa Ngadisari, menceritakan, ongkek berasal dari kata ’’aung” dan ’’kek”. Aung artinya anak –urip– mati. Kek, artinya tua. ’’Semua itu mengarah ke sangkan paraning dumadi. Asal muasal sebuah penciptaan,” terangnya. Ongkek yang dibuat memang dua buah. Istilahnya, satu pasang. Satu dusun diwajibkan membuat sepasang ongkek. Dengan syarat, tidak ada orang meninggal selama 44 hari menjelang ritual Yadnya Kasada. ’’Kalau ada yang meninggal dalam waktu tersebut, dusun itu tidak membuat ongkek,” katanya. Lastoko mengakui, kebersamaan warga dalam menyambut ritual Yadnya Kasada memang luar biasa. Semua elemen masyarakat begitu antusias. ’’Dalam momen seperti ini, kita istilahnya gupuh-suguh. Artinya, memang waktunya sibuk dan menyiapkan suguhan untuk para tamu,” paparnya. Layaknya hari raya, semua ruang tamu di rumah penduduk dipenuhi kue, minuman, dan makanan untuk siapa saja yang datang. Baik yang beragama Hindu, Islam, maupun Kristen. ’’Karena kita di sini tidak memandang agama atau keyakinan. Yang penting berbuat baik untuk semua, maka kebaikan itu akan kembali kepada diri kita,” ungkapnya. Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia PHDI Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto mengatakan bersyukur karena pandemi Covid-19 telah melandai. Tahun ini sudah ada kelonggaran terkait jumlah peserta ritual meski tetap dibatasi. Wisatawan pun sejatinya boleh naik. Tapi, hanya sampai Cemoro Lawang. ’’Kalau tahun lalu ditutup sampai Sukapura. Sekarang ditutup sampai Cemoro Lawang,” katanya. Dalam ritual tersebut, ada pengukuhan dua romo dukun pandito. Mereka berasal dari Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, dan Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Keduanya akan mengemban empat tugas utama. Pertama, menjaga kesucian diri. Kedua, berhak menentukan hari baik untuk sebuah upacara individu maupun komunal. Ketiga, berhak dan berkewajiban menyelesaikan semua urusan ritual. Keempat, menjadi pembimbing atas semua permasalahan umat. Bambang berharap rangkaian Yadnya Kasada bisa berjalan lancar. Yang lebih penting, keharmonisan antarwarga dan antara manusia dan sang pencipta alam harus tetap dijaga seperti yang sudah berjalan selama ini. ’’Karena ketika kita baik dengan sesama manusia, kita akan mendapat kebaikan pula. Jika kita menjaga lingkungan, alam akan menjaga kita,” tandasnya.
COBALAH kita melempar bola pada dinding. Sekuat apa kita melempar, maka sekuat itu pula bola memantul ke arah kita. Lakukan berulang-ulang. Dan berulang-ulang pula bola itu memantul. Sadar ataupun tidak kehidupan yang kita jalani sekarang ini seperti kita melempar bola pada dinding. Sebesar apa kebaikan yang kita lakukan, sebesar itu juga kebaikan itu kembali ke kita. Sebesar apa keburukan yang kita buat maka sebesar itu juga keburukan itu kembali pada kita. Kita bisa berjalan, lari dan melompat itu bukanlah serta merta keahlian yang diperoleh dalam satu hari. Tapi minggu, bulan dan tahun yang kita lewatkan semasa kecilah yang membuat kita dengan mudah sekarang melakukannya. Orang tua kita mengajarkanya lagi dan lagi. Meski kita terjatuh sekalipun tetap kita diajarkannya untuk berdiri dan berjalan. Tidak perduli sebesar apa luka yang kita peroleh ketika belajar berdiri dan berjalan orang tua kita akan terus mengajarkannya lagi hingga kita bisa seperti saat ini. Berdiri, berjalan dan berlari dengan mudahnya. Kebaikan yang diajarkan orang tua kita adalah kebaikan yang pernah diajarkan kakek dan nenek kita pada orang tua kita. Selanjutnya seperti itu dan kebaikan itu berulang turun temurun. Seberapa baik kita merawat dan memperlakukan anak kita, maka sebaik itu pula mereka akan memperlakukan kita di hari tua nanti. Saya sadar betul pencapaian yang saya capai saat ini adalah hasil dari fikiran, keringat dan usaha yang telah saya keluarkan. Seperti halnya sekuat apa saya melempar bola ke dinding sekuat itu pula bola memantul. Sekuat usaha yang telah saya lakukan maka seperti itu pula hasil yang saya dapatkan. Tentunya ini atas kehendak Allah SWT semuanya. Sadarkah kita jika di sekeliling kita berbuat baik pada kita karena kita berbuat baik pada mereka. Begitupun mereka akan memperlakukan kita dengan tidak baik jika kita memperlakukan mereka dengan tidak baik. Jangan harap Allah SWT akan banyak memberi kemudahan jika kita sering mempersulit orang. Teruslah berbuat baik niscaya orang jahatpun akan berterimakasih. Teruslah memberi niscaya orang kikir pun akan berterimakasih. []
Allah merajai langit dan bumi, dan kita semua akan kembali kepada Allah. Tafsir Surah An-Nuur Ayat 42 Allah Ta’ala berfirman, وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ “ Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali semua makhluk.” QS. An-Nuur 42 Penjelasan ayat Disebutkan dalam ayat ke-42 “Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi.” Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di memberikan keterangan, maksudnya adalah Allah menciptakan langit dan bumi. Allah yang memberikan rezeki pula kepada langit dan bumi. Allah juga yang mengatur langit dan bumi. Allah mengaturnya secara syar’i dan qadari artinya semua harus tunduk pada aturan syariat Allah dan semua yang Allah tetapkan itu pasti terjadi. Di bumi ini tempat kita beramal, sedangkan di akhirat adalah tempat amalan kita itu dibalas. Sehingga dalam lanjutan ayat disebutkan, “dan kepada Allah-lah kembali semua makhluk.” Artinya, kepada Allah tempat kita kembali dan kita akan dibalas. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 600-601. Balasan manusia akan nampak pada catatan amal dan timbangan amal Dalil yang menunjukkan adanya timbangan amal pada hari kiamat di antaranya adalah ayat, وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika amalan itu hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan pahalanya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” QS. Al-Anbiya’ 47 Dalam ayat lainnya disebutkan, فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ , فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ , وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ , فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ , وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ , نَارٌ حَامِيَةٌ “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan kebaikannya, Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas.” QS. Al-Qari’ah 6-11 Dalam penjelasan para ulama ada beberapa pendapat manakah yang ditimbang dalam mawazin timbangan pada hari kiamat. Ada beberapa pendapat, yang ditimbang adalah 1 amal itu sendiri, 2 catatan amal, 3 pahala dari amalan, 4 pelaku amal itu sendiri. Lihat Ma’arij Al-Qabul, 31022-1024. Dalil yang menunjukkan bahwa manusia akan menerima catatan amal adalah firman Allah Ta’ala, فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata “Ambillah, bacalah kitabku ini.” QS. Al-Haqqah 19 Juga dalam ayat, وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku ini.” QS. Al-Haqqah 25 Begitu juga yang menerima kitab dari sisi belakang punggungnya seperti disebut dalam ayat, وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ “Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” QS. Al-Insyiqaq 10 Juga dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu anha, ia ketika itu mengingat neraka, lantas ia menangis. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya saat itu, “Apa yang membuatmu menangis?” Aisyah menjawab, “Aku mengingat neraka lantas aku menangis. Apakah kalian akan mengingat keluarga kalian pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, أَمَّا فِي ثَلاَثَةِ مَوَاطِنَ فَلاَ يَذْكُرُ أَحَدٌ أَحَدًا عِنْدَ المِيْزَانِ حَتَّى يَعْلَمَ أَيَخِفُّ مِيْزَانُهُ أَوْ يَثْقُلُ وَعِنْدَ الكِتَابِ حِيْنَ يُقَالُ هَآؤُمُ اقْرَؤُوْا كِتَابِيَهْ حَتَّى يَعْلَمَ أَيْنَ يَقَعُ كِتَابُهُ أَفِي يَمِيْنِهِ أَمْ فِي شِمَالِهِ أَمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِهِ وَعِنْدَ الصِّرَاطِ إِذَا وُضِعَ بَيْنَ ظَهْرَي جَهَنَّمَ “Ada tiga keadaan seseorang tidak akan mengingat siapa pun pada hari kiamat 1 ketika di sisi mizan timbangan, sampai seseorang mengetahui timbangannya ringan ataukah berat; 2 ketika berada pada sisi kitab catatan amal ketika dikatakan Ambillah, bacalah kitabku ini’ sampai ia mengetahui apakah catatannya diambil dari sisi kanan, ataukah sisi kiri, atau dari belakang punggungnya; 3 ketika berada di shirath jembatan yang dibentangkan di atas Jahannam.” HR. Abu Daud, no. 4755; Tirmidzi, no. 2235. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Baca Juga Faedah Surat Qaaf, Setiap Yang Terucap Akan Masuk Catatan Amal Tentang hisab amal Dalam masalah hisab disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Yang dimaksud hisab adalah ditimbangnya amal kebaikan dan kejelekan. Termasuk dalam hal ini ada munaqasyah perhitungan amal baik dan jelek secara rinci. Hisab yang dimaksud sebelumnya adalah penampakan amalan pada pelakunya dan akhirnya ia mengenal amalnya sendiri. Oleh karena itu para ulama Ahlus Sunnah berselisih pendapat mengenai orang kafir, yaitu apakah orang kafir dihisab ataukah tidak. Yang jelas hisab itu ada yaitu amalan itu dihitung dan ditampakkan. Namun hisab bagi orang kafir bukan maknanya kebaikan mereka dibalas pada hari kiamat lalu dibandingkan dengan kejelekannya.” Dar’u Ta’arudh Al-Aql, 5229. Dinukil dari Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 6489. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di tempat lainnya juga menyatakan, “Setiap hamba pasti memiliki kejelekan. Dalam kehidupan kita selaku hamba pasti punya kekurangan. Seandainya bukan karena pemaafan dari Allah terhadap kesalahan-kesalahan kita dan Allah menerima amal kita, tentu kita akan binasa. Karena dalam hadits disebutkan, “Siapa yang menghadapi munaqasyah perhitungan hisab secara rinci, maka ia tentu akan disiksa. Aisyah mengatakan, Wahai Rasulullah, bukankah Allah mengatakan, “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata “Ambillah, bacalah kitabku ini.” Inilah yang dimaksud dengan al-ardh penampakan amal. Namun jika amal tersebut nuqisya dihisab rinci tentu akan disiksa.” Jaami’ Ar-Rasail, 1150. Dinukil dari Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 6489 Hisab itu ada dua macam Pertama, hisab ardh. Hisab ini berlaku khusus untuk orang beriman. Ia akan ditanya tentang amalnya, ilmunya, nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Ia akan menjawab dengan kokoh, akhirnya nikmat kebaikan berlanjut terus untuknya. Jika ditampakkan baginya dosa, ia mengakuinya dan Allah akan menutupi serta memaafkan kesalahannya. Hisab pertama ini tidak dihitung detail munaqasyah. Ia akan mengambil kitabnya dengan tangan kanannya. Ia akan kembali pada keluarganya dalam keadaan suka cita. Karena ia selamat dari siksa dan diberikan keburuntungan dengan pahala. Inilah yang disebutkan dalam hadits, مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ “Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya, “Bukankah Allah telah berfirman maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ QS. Al-Insyiqaq 8” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Itu baru al-aradh penampakan amal. Namun barangsiapa yang diteliti hisabnya, maka ia akan binasa.” HR. Bukhari, no. 103 dan Muslim, no. 2876 Kedua, hisab munaqasyah. Hisab ini ditujukan pada orang kafir dan ahli maksiat dari orang yang bertauhid. Mereka akan lama hisabnya dan akan berat tergantung pada banyaknya dosanya. Jika itu ahli maksiat dari kalangan ahli tauhid, maka Allah akan masukkan mereka dalam neraka sampai waktu tertentu kemudian keluar, lalu akan masuk dalam surga selamanya. Hisab jenis ini akan dialami oleh orang kafir, munafik, dan pelaku kemaksiatan–semoga Allah melindungi kita–, di mana mereka akan diinterogasi secara teliti atas kenikmatan yang diperoleh semasa di dunia, selain itu terjadi adu argumentasi sehingga Allah pun mendatangkan saksi untuk membatalkan alasan mereka. Lihat Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 182318. Semoga bermanfaat. Referensi Ma’arij Al-Qabul bi Syarh Sullam Al-Wushul ila Ilmi Al-Ushul fi At-Tauhid. Cetakan kedelapan, Tahun 1432 H. Hafizh bin Ahmad Al-Hakami. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Iyad bin Abdul Lathif bin Ibrahim Al-Qaisi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Baca Juga Shalat itu Yang Pertama Kali Akan Dihisab Ya Allah, Hisablah Aku dengan Hisab yang Mudah Diselesaikan menjelang Ashar, 27 Shafar 1441 H, bertepatan dengan 26 Oktober 2019 oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel